Iramady Irdja: Wacana Islamic Center Payakumbuh

Iramady Irdja

Sungguh berbahagia mendengar rencana pembangunan Islamic Center di Payakumbuh. Akhirnya jadi juga. Wacana ini sudah lama digemakan. Pada tahun 70-an awal sudah disuarakan oleh tokoh-tokoh Payakumbuh antara lain oleh Bp. C. Israr dan kawan-kawan. Namun lokasi yang dilirik arah ke Timur, kira-kira jatuhnya dibelakang Masjid Muhammadiyah dan berhadapan dengan gereja. Konsepnya “sadundun” dengan pusat OR lapangan Poliko dan akan dijadikan alun-alun kota. Selanjutnya, suara ini menghilang. Mungkin karena faktor ekonomi dan budgeting yang kurang mendukung.

Setelah terbentuknya Kota Payakumbuh, berbagai wacana sporadis mulai terdengar kembali. Sayup-sayup sampai dan hilang-hilang timbul.

Dari pengamatan penulis, hampir tidak ada faktor kontestasi dalam rencana ini. Semua komponen masyarakat sangat mendukung dan sangat merindukan. Kalaupun ada masalah, semuanya murni masalah komunikasi antara saudara – Pemerintahan Kota Payakumbuh dan Pemerintahan Kab. 50 K. Penulis tidak menganggap masalah ini adanya kontestasi antarkelompok kepentingan karena dari dulu Luhak 50 Koto adalah satu. Agama dan Adat homogen dan sama-sama sumber pemersatu dan semangat.

Dalam pada itu, perkenankan penulis menyampaikan beberapa masukan, sebagai berikut:

  1. Berdasarkan diskusi dengan kawan-kawan pakar Planologi pada tahun 2012, disarankan untuk dibuatkan jalan tembus ke arah utara dari Lobuah Tongah arah Bunian (Jl. Tan Malaka). Hal ini penting guna mengubah wajah Payakumbuh menuju kota besar. Tugu di depan Kantor Bupati menjadi senter simpang 4 yang membuka akses bisnis yang lebih luas.
  2. Setelah jalan tembus dibuat, maka bagian barat jalan menjadi lokasi bisnis, sedangkan bagian timur untuk Islamic Center. Lokasi bisnis tersebut terpadu dan bagian dari penerapan (laboratorium) Ekonomi Islam di bawah Islamic Center.
  3. Konsep Islamic Center bukan hanya sekedar tempat ibadah atau Masjid, namun terpadu antara lain dengan konsep Ekonomi Islam (muamalah), pusat penelitian, pendidikan, E-Islamic Program, Siyasah, kesehatan, olah raga, dan hampir semua sektor kehidupan.
  4. Berdasarkan pengamatan penulis, konsep Islamic Center di berbagai kota terjebak hanya sebagai tempat ibadah (masjid). Padahal Islamic Center memiliki ruang lingkup yang sangat luas dan kompleks.
  5. Konsep Islamic Center membutuhkan lahan yang luas, sedangkan lokasi yang tersedia relatif sempit. Hal ini, perlu dikonsep dengan cermat oleh ahlinya guna mengefektifkan lahan yang sempit. Sebagai komparasi rencana Islamic Center di Medan menyediakan lahan 110 ha di daerah Titipapan.
  6. Hindari dan bicarakan secara konstruktif agar tidak tercipta “rivalitas” antara Masjid Muhammadiyah dan Islamic Center. Lokasi keduanya berdekatan. Hal ini, perlu disinergikan karena diberbagai daerah pembangunan Islamic Center manfaatnya kurang optimal. Ummat tetap saja mencintai masjid yang sudah mengakar dan “ownership” bersama. Sinergitas wajib ditata dari awal, misalnya dalam kepengurusan dan program bersama.

Penulis menyampaikan apresiasi kepada semua pihak dari tokoh-tokoh formal maupun informal yang telah memulai langkah awal ini untuk langkah-langkah besar selanjutnya.

Masyarakat Luhak 50 yang berada di Ranah dan Rantau wajib bersatu memberikan dukungan dan kontribusi guna mewujudkan rencana ini.

“Sado itu dulu nan takona, nan tingga untuak nan pandai….”.

Salam hangat selalu,

Jakarta, 8 Oktober 2019

Tinggalkan Balasan