Lelaki itu dikenal dengan “Hunter”

Penulis: Adre Wisben (1995)

Arde Wisben

Bukan karena penampilannya mirip dengan Fred Driyer, pemeran detektif dalam serial Hunter yang tayang dimasa jayanya TVRI. Tapi Hunter yang ini, memang pemburu. Pemburu siswa siswa yang “cabut”, bolos saat jam pelajaran berlangsung. Ia akan terus memburu sampai ke sawah, ke rumah rumah penduduk sekitar. Banyak senior, dapat menceritakan bagaimana ngeri ngeri sedap lari dari Hunter.

Nama aslinya adalah Hilmi, K. Kepala Sekolah. Tapi nama ini “tenggelam” kalah pamor dengan sebutan Hunter.

“Selamat datang di SMU 1 Payakumbuh. Mulai saat ini, kalian akan diawasi oleh Hunter”

Beliau sendiri yang mengenalkan namanya begitu, saat pidato selamat datang kepada siswa siswa baru di SMU 1 Payakumbuh. Hunter mungkin Kepala Sekolah paling popular di Payakumbuh. Cerita bagaimana ia memimpin sekolah dengan disiplin menjadi buah bibir banyak orang. Siswa siswa SMP pun juga tahu.

Pengganti Orang Tua

Kepala Sekolah punya prinsip, selama di Sekolah, guru adalah pengganti orang tua. Karena orang tua sudah mempercayakan anak anak untuk dididik di sekolah, maka “lari” dari kelas adalah “dosa” besar. Untuk itu pelakunya harus “ditemukan”. Tak peduli dimana ia sembunyi. Untuk kemudian dipertemukan dengan orang tuanya. Kepala Sekolah tidak takut “kehilangan” murid. Teman kami merasakan tangan dingin Kepala Sekolah ini, ketika ia kedapatan bermain basket disaat jam pelajaran berlangsung. Kepala Sekolah mempersilahkan teman ini untuk mencari sekolah lain.

Saya sendiri, beberapa kali menyaksikan bagaimana Kepala Sekolah menjalani kepatuhan pada nilai nilai yang dipercayainya. Kendaraannya hanya vespa model lama. Entah berapa kali, ditengah jalan atau di halaman sekolah, terlihat ia melepas penutup mesin untuk memeriksa busi, karena vespanya tidak bisa dinyalakan.

Pernah saya tanya, apa tidak sebaiknya Kepala Sekolah pakai mobil. Jawabnya,

“Apakah kalau saya pakai vespa lantas orang tidak menghargai saya sebagai Kepala Sekolah?”.

Ya, Kepala Sekolah, tidak meletakkan kebanggaan dirinya pada benda benda yang dipakai.

Kepala Sekolah mematuhi aturan, tak peduli ada pengawas atau tidak. Pernah sekali, saya mendapat kesempatan menumpang vespanya yang legendaris itu. Di perempatan jalan, bertepatan dengan lampu merah, Kepala Sekolah berhenti. Sementara motor motor lain menerobos.

“Kalau kita tidak bisa mengikuti aturan, jangan harapkan orang lain juga akan melakukannya”.

Bagi kepala sekolah, mendisiplinkan diri adalah hal utama, sebelum menuntut orang lain.

Senang Membaca Buku

Satu lagi kebiasaan Kepala Sekolah adalah membaca buku. Nantinya apa yang menarik dari bacaannya, akan disampaikan pada saat upacara bendera. Misalnya, ciri ciri orang sukses. Selalu ada yang baru, kalau beliau memberi wejangan.

Menjelang ujian nasional, saya mendapat undangan untuk mengikuti rapat kerja nasional, sebuah organisasi pemuda diluar OSIS. Ketika minta izin, Kepala Sekolah mengatakan yang bisa memberikan izin adalah orang tua murid. Sekolah hanyalah tempat untuk “menitipkan” siswa sementara. Baiklah, Papa memberikan izin, dan saya pun berangkat ke Jakarta.

Begitu saya berangkat ke Jakarta, Kepala Sekolah datang ke rumah. Katanya, ia menunggu orang tua yang tidak datang ke sekolah untuk membicarakan soal kepergian murid ke Jakarta. Rupanya, Kepala Sekolah ingin memberikan pesan bahwa untuk keputusan yang akan berpengaruh pada anak, harus dilakukan bersama antara orang tua dan wali murid. Sebenarnya Kepala Sekolah cendrung untuk “mencegah” keberangkatan saya ke Jakarta, karena waktu ujian nasional kurang dari satu bulan lagi. Tapi Kepala Sekolah ingin “nasehat” untuk tidak berangkat itu keluar dari mulut Papa, orang tua.

Lama setelah itu, mungkin saya sudah lulus kuliah. Kami bertemu lagi di pasar Payakumbuh. Beliau masih dengan vespanya.

“Assalamualaikum Pak”

“Waalaikum salam, Ananda, saya ingat wajah, tapi lupa nama. Seorang yang kuat pendirian”

Amin, kuanggap itu doa. Rupanya beliau masih ingat dengan kejadian dulu, saya pergi ke Jakarta tanpa berpamitan.

Dalam moment ulang tahun SMU Negeri 1 Payakumbuh, saya teringat dengan Kepala Sekolah kami, Bapak Hilmi K, BA. Semoga beliau tenang disana. Al fatihah untuk beliau.

Jakarta, 17 September 2010.

Tinggalkan Balasan