Sejarah SMAN 1

SEJARAH SMA NEGERI 1 PAYAKUMBUH

Latar Belakang

Dalam rangka memperingati HUT SMA Negeri 1 Payakumbuh yang ke 40 dan bertepatan dengan HUT RI yang ke 50, maka berdasarkan Surat Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh No.404/1.0814/SMA-O UU.1995 tanggal 23 Agustus 1995 selaku Penanggung Jawab Peringatan HUT SMA Negeri 1 Ke 40, maka kepada kami yang terdiri dari bekas Pendiri dan Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh, Mantan guru dan Tata Usaha untuk menyusun Sejarah SMA Negeri 1 Payakumbuh sejak berdiri sampai sekarang.

Kepercayaan yang diberikan itu kami terima dengan ikhlas dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan data SMA Negeri 1 Payakumbuh dari pihak yang memungkinkan. Namun sebagai manusia biasa tentu tak luput dari kekhilafan dan kekurangan, justeru karena itu jika ditemui dalam penulisan kami ini tidak pada tempatnya dengan segala kerendahan hati mohon dimaafkan.

Dalam penulisan Sejarah Keberadaan SMA Negeri 1 Payakumbuh ini kita bersyukur kepada Allah SWT, karena masih adanya bersama kita nara sumber yang layak dipercayai ialah orang tua kita Bapak Djayusman sebagai salah seorang pendiri SMA Negeri 1 Payakumbuh dan selaku Kepala SMA Negeri 1 yang pertama kali. Begitu juga Saudara Armi Alwi sebagai Tata Usaha SMA Negeri 1 Payakumbuh semenjak tahun 1955.

Sejarah ringkas mula berdirinya SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Setelah pengembalian kedaulatan oleh Belanda kepada Rl, maka tahun 1950 tentara Belanda meninggalkan Payakumbuh. Para siswa yang belajar di beberapa daerah di Kab 50 Kota pada SMP Darurat berdatangan ke kota dan bersama siswa yang tidak mungkin meninggalkan kota, belajar bersama-sama di SMP Payakumbuh.

Tahun berikutnya terjadi peledakan murid tamatan SMP yang tidak melanjutkan di Payakumbuh karena pada waktu itu belum ada SLTA di Payakumbuh. Bagi orang tua mereka yang mampu mereka dapat melanjutkan di SLTA Bukittinggi, Padang Panjang ataupun Padang. Sebaliknya bagi orang tua mereka tergolong ekonomi lemah tentu sebaliknya

Melihat hal yang demikian maka Pengurus PGRI Kabupaten 50 Kota berusaha mendirikan SLTA di Payakumbuh, mengingat akan kebutuhan guru sangat dirasakan. Berkat kerja keras dari PGRI maka usaha tersebut kenyataan setelah mendapat dorongan dan bimbingan dari pemerintah Daerah Bapak Bupati 50 Kota sehingga pada tahun 1952 diresmikanlah berdirinya SGA Negeri di Payakurnbuh. Usaha PGRI jalan terus, sekarang yang dipikirkan sekolah lanjutan yang lain yaitu SMA dan STM tetapi yang diprioritaskan adalah SMA, sebab anak-anak kita ingin masuk ke SMA harus di Bukittinggi atau di Padang.

PGRI melihat perekonomian rakyat di daerah ini tidak memungkinkan anak mereka bersekolah di Bukittinggi atau di Padang. Tambah lagi sekolah tersebut, menerima murid sangat terbatas. Akibatnya hanya beberapa anak yang orang tuanya mampu dapat melanjutkan sekolahnya ke SMA Pada hal lulusan SMP kian tahun semakin bertambah jumlahnya.

Sebahagian besar anak-anak tersebut berasal dari keluarga tidak mampu. Hal inilah yang mendorong PGRI ingin mendirikan sebuah SMA di Payakumbuh. Usaha ini memerlukan keuletan dan perjuangan yang amat berat. Syarat utama yang memerlukan pemikiran adalah mencari tanah dan harus dibeli dan membangun gedung yang sesuai untuk SMA. Karena rencana ini merupakan usaha yang besar perlu dikonsultasikan dengan Bupati yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak Darwis Dt.Tumenggung.

Bapak Bupati sangat memahami perlu adanya sebuah SMA di Payakumbuh mengingat tingginya keinginan masyarakat 50 Kota yang berasal dari daerah yang jauh dari Payakumbuh seperti dari Pangkalan, Baruh Gunung, Situjuah dan lain-lain menyekolahkan anak mereka di SMA Berdasarkan itulah Bapak Bupati menyambut keinginan PGRI mendirikan SMA dan memerintahkan segera membentuk Panitia Pembangunan SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Nama yang masih kita ingat dalam kepanitiaan pendirian SMA Negeri 1 adalah:

  • Darwis Dt. Tumanggung selaku Bupati 50 Kota;
  • Damanhuri ZA (almarhum);
  • Alamsuddin;
  • Zamzami Kimin;
  • Rahman; dan
  • Bapak Djayusman sendiri.

Panitia bertugas dan memikirkan tersedianya tanah dan membangun gedung. Panitia bekerja dengan gesit sehingga didapatlah tanah tempat pendirian SMA itu di Labuh Basilang. Yang punya tanah bersedia menjual tanah tersebut asal betul-betul untuk mendirikan SMA.

Kemudian panitia mulai memikirkan dan berusaha mengumpulkan uang dan gedung SMA dimulailah bangunannya berangsur-angsur pembangunan sehingga pada tahun 1955 dapat disiapkan 4 buah ruangan belajar dan 1 buah ruangan guru.

PGRI tidak mengetahui dari mana sumber dana tetapi sudah pasti atas kebijaksanaan pemerintah Daerah yaitu Bupati Kab. 50 Kota. PGRI berserta guru-guru sangat gembira dan berterimakasih atas kegiatan panitia dibawah pimpinan Bapak Bupati 50 Kota itu. Jasa baik mereka tentu tak dapat dilupakan oleh Para Alumni SMA I maupun siswa SMA I Payakumbuh.

Sehubungan kita memperingati 40 tahun SMA Negeri 1 Payakumbuh saat ini marilah kita mengenang sejenak para pendiri SMA Negeri 1 Payakumbuh yang sebagian mereka sudah tiada, semoga usaha yang telah disumbangkan kepada terwujudnya SMA Negeri 1 Payakumbuh merupakan amal saleh bagi mereka dan bagi yang teIah mendahului kita kiranya Allah SWT akan menempatkan arwah mereka di tempat yang sebaik-baiknya di sisiNya.

Urusan permohonan akan ditetapkan sebagai SMA Negeri adalah wewenang pemerintah Kab. 50 Kota yaitu Bapak Bupati selaku Ketua Panitia. Dan di sinilah terjadi kekhilafan panitia dimana permohonan langsung kepada Menteri P dan K sedang Inspektur Jendral dan lain-lain tidak mendapatkan informasi akan hal tersebut.

Sebetulnya sebelum itu Bapak Djayusman selaku Ketua PGRI telah menghubungi Bapak Sekjen P dan K yaitu Bapak Hutasoit yang kebetulan teman sekelas Bapak Djayusman di Bandung. Pada waktu itu Bapak Sekjen memberikan harapan kepada Bapak Djayusman untuk berdirinya SMA di Payakumbuh. Dengan syarat Bupati mengajukan lagi permohonan melalui jalur yang berlaku pada waktu itu.

Pada bulan Juli 1955 Bapak Mr. Mhd. Yamin selaku Menteri P dan K berkunjung ke Bukittinggi dalam rangka peresmian SMA Negeri Lubuksikaping. Bapak Menteri datang beserta rombongan antara lain Bapak Sugarda (Irjen), Bapak Ali Marsaban (Inspektur SMA Pusat) dan lain-lain.

Bapak Bupati 50 Kota datang pula ke Bukittinggi yaitu Bapak Sy. L. Dt. Sibongsu pengganti Bupati Darwis Dt. Tumanggung untuk memohon di Payakumbuh didirikan SMA. Inspektur Jenderal menjawab tidak mungkin karena permohonan tidak ada. Mendengar Jawaban tersebut Bapak Dt. Sibongsu bersama Bapak Djayusman langsung menemui Bapak Irjen dan Inspektur SMA Pusat Bapak Ali Marsaban. Pada waktu itu Bapak Djayusman dimarahi oleh Bapak Irjen karena Bapak Djayusman dianggap orang yang paling tahu dalam prosedur permohonan mendirikan sebuah sekolah.

Untuk menetralisir suasana Bapak Djayusman tidak kehilangan akal sambil berkata kepada Bapak Irjen bahwa Bupati kami adalah seorang surau dan ulama dan dia tidak mengerti prosedur mengajukan permohonan pendirian sebuah sekolah dan kalau permohonan diajukan ke Menteri P dan K beliau menganggap sudah tercakup keseluruhannya.

Mendengar pernyataan Bapak Djayusman tersebut Bapak lrjen memahami dan memerintahkan kepada Bapak Inspektur SMA untuk berangkat ke Payakumbuh bersama Bapak Bupati dan Bapak Djayusman. Bapak Inspektur SMA dibawa ke lokasi SMA Labuh Basilang yang telah siap 4 lokal ruangan belajar dan 1 ruang kantor. Setelah menyaksikan lokasi dan gedung SMA di Labuh Basilang dalam keadaan baru maka Bapak Inspektur dapat menyetujui SMA di Payakumbuh. Untuk Kepala Sekolah ditunjuk langsung Bapak Djayusman dan untuk peresmiannya direncanakan tanggal 15 September 1955 yang akan dihadiri langsung oleh Inspektur SMA Pusat.

Menurut Bapak Inspektur pada waktu itu guru tidak disediakan dari pusat. Kepala Sekolah berusaha mencari guru dan diambil dari guru SGA Payakumbuh dan Guru SMP Negeri juga dari tenaga pengajar dari luar yang Kepala Sekolah menganggap mampumemberikan pelajaran antara lain Bapak Dr. Moezbar, Sy. L. Dt. Sibongsu, Rustian Said dan lain-lain sebagai guru tidak tetap.

Karena guru tetap tidak ada maka 3 bulan kemudian Bapak Djayusman selaku Kepala Sekolah dengan membawa mandat dari Bapak Inspektur SMA berangkat ke Jogjakarta untuk mencari guru dari pengarahan tenaga Mahasiswa (PTM) menerima Mahasiswa lulusan C1 untuk tenaga pengajar. Dari hasil kepergian ke Jogja tersebut didapatkan 3 orang tenaga pengajar dari PTM masing-masing A. Kamal, M. Yaman dan Azwar Uddin.

Begitu besarnya peminat siswa tamatan SMP untuk melanjutkan ke SMA, sedangkan daya tampung tidak memungkinkan, mengingat lokal tidak mengizinkan, maka siswa tersebut diterima dan dibelajarkan pada sore hari di tempat yang sama dan guru dari guru SMA Negeri 1 juga. Sedangkan ijazah sama dengan ijazah yang dikeluarkan SMA Negeri 1 Payakumbuh. Dengan demikian siswa yang tamat SMA yang belajar sore hari juga alumni SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Demikianlah usaha yang dilaksanakan untuk tercapainya proses belajar mengajar yang baik dan masyarakat Payakmbuh bergembira dan senang menyekolahkan anak mereka di SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Sementara itu waktu berjalan terus dan SMA Negeri 1 Payakumbuh berkembang dengan baik dan tibalah saatnya Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh yang pertama menyerahkan pimpinan SMA Negeri 1 Payakumbuh kepada Bapak A. Kamal. Mengingat tingginya volume kerja Bapak Djayusman selaku Kepala SMP Negeri I Payakumbuh dan merangkap sebagai Kepala Kursus Guru B, Kepala Kursus Persamaan SGB dan lain-lain yang sangat menguras tenaga dan pemikiran.

SMA Negeri 1 Payakumbuh di bawah pimpinan A. Kamal berjalan dengan baik dan selanjutnya pimpinan SMA Negeri 1 Payakumbuh dipercayakan kepada Bapak R. H. Rumli Hasan Putra Negara sampai pergolakan daerah 1958. Begitulah seterusnya silih berganti terjadi pergantian, pimpinan SMA Negeri 1 Payakumbuh sampai saat ini Bapak Hilmi K, BA adalah pimpinan SMA Negeri 1 Payakumbuh yang ke 8.

Untuk lebih lengkapnya kami tuliskan nama-nama Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh semenjak 1955 sebagai berikut:

  1. Bapak Djayusman 1955-1956
  2. Bapak A. Kamal 1956-1957
  3. Bapak R.M. Rumit Hasan Putera Negara 1957-1958
  4. Bapak Sysmsukar Bachtiar 1959-1969
  5. Bapak Yohanis BA 1969-1974
  6. Bapak Basyirudin 1974-1977
  7. Bapak Bustami Dt. Bijo Anso 1977-1987
  8. Bapak Hilmi K. BA 1987-sekarang

Namun demikian perlu kita garis bawahi bahwa di Lokasi Labuh Basilang SMA Negeri 1 Payakumbuh selama 19 tahun telah mengukir berbagai prestasi baik di bidang Hasil Belajar dan Mengajar, maupun di bidang Olahraga dan Kesenian. Bolehlah dikatakan bahwa alumni SMA Negeri 1 Payakumbuh yang pegang peranan dewasa ini baik di bidang ABRI (kini TNI-Polri) , Pegawai Negeri maupun swasta adalah jebolan SMA Negeri 1 Labuh Basilang.

Bagaimana perkembangan SMA Negeri 1 Payakumbuh untuk masa berikutnya yang mengalami pasang naik dan pasang surut akan kami uraikan secara ringkas dalam penulisan selanjutnya.

Pada periode ini SMA Negeri 1 Payakumbuh mengalami pasang naik dan pasang surut. Tahun 1959 s/d 1969 dimana SMA Negeri 1 Payakumbuh di bawah pimpinan Bapak Syamsukar Bachtiar. Tatkala itu SMA Negeri 1 Payakumbuh adalah satu satunya SMA di kedua daerah ini yang memonopoli semua prestasi ditingkat SLTA baik prestasi Hasil Proses Belajar Mengajar, maupun prestasi di bidang kesenian dan olahraga.

Pada tahun 1967 Tim Kesenian SMA Negeri 1 Payakumbuh pernah melawat ke daerah Riau untuk mengadakan pagelaran di Auditorium Caltex Rumbai dan di Gedung Lancang Kuning Pekan Baru.

Begitu antusiasnya masyarakat Caltcex Rumbai terhadap atraksi yang disuguhkan siswa/I SMA Negeri 1 Payakumbuh maka atas permintaan Panitia pada malam itu terpaksa diadakan 2x pertunjukan.

Begitu juga prestasi di bidang olahraga, kalau ada pertandingan antar SLTA tingkat Sumatera Barat, bola kaki, volley dan basket, maka SMA Negeri 1 Payakumbuh sangat diperhitungkan.

Di bidang prestasi belajar SMA Negeri 1 Payakumbuh tetap termasuk Ranking 10 besar terhadap SMA se Sumatera Barat. Hal ini perlu kami kemukakan dalam rangka mengenang masa kejayaan SMA Negeri 1 Payakurnbuh pada masa lalu.

Selanjutnya karena masa/waktu terus berjalan maka terjadi pergantian Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh dari Bapak Syamsukar Bachtiar kepada Bapak Yohanis BA (almarhum) pada tahun 1968.

Pada tahun 1970 Payakumbuh mendapat tambahan sebuah Sekolah Menengah Tingkat Atas yang benama SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan) yang berlokasi di Bukit Sitabur Kodya Payakumbuh. Sumatera Barat hanya memperoleh 2 buah SMPP yaitu di Talu Kabupaten Pasaman dan di Payakumbuh . Pada prinsipnya mata pelajaran di SMPP sama dengan mata pelajaran di SMA ditambah dengan mata pelajaran ketrampilan antara lain menjahit pakaian pria dan wanita, menganyam rotan dan perbengkelan.

Walaupun gedung SMPP sudah siap namun mobileur dan sarana lainnya tidak tersedia. Untuk menerima murid baru tidak memungkinkan selagi SMA Negeri 1 Payakumbuh masih berada di Labuh Basilang, yang pada waktu itu jalan tersebut bernama Jalan Khatib Sulaiman. Hal inilah yang menyebabkan SMA Negeri 1 Payakumbuh mengalami masa pasang surut karena Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh pada waktu itu Bapak Yohanis BA berprinsip satu-satunya alternatif yang harus ditempuh adalah SMA Negeri 1 Payakumbuh, baik murid, guru dan semua perlengkapan dipindahkan ke SMPP Bukit Sitabur. Tentu hal ini atas persetujuan Kanwil Depdikbud Propinsi Sumatera Barat.

Mulai tahun 1974 siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh belajar di SMPP Bukit Sitabur dengan nama SMA Negeri 1/SMPP sampai kepada Ijazah tetap bernama SMA Negeri 1/SMPP. Sementara itu terjadi pertukaran Kepala SMA Negeri 1/SMPP dari Bapak Yohanis BA kepada Bapak Basyirudin. Sampai tahun 1977 di bawah pimpinan Bapak Basyirudin tetap bernama SMA Negeri 1/SMPP. Uang otorisasi dari Pusat tetap keluar untuk dua sekolah yang dikelola oleh seorang kepala Sekolah. Hal yang serupa ini tetap berjalan sampai tahun 1977.
Sementara itu lokasi SMA Negeri 1 yang berada di Jalan Khatib Sulaiman ditempati oleh STM Negeri Payakumbuh, sedangkan kami sendiri tidak mengetahui mengapa terjadi yang demikian.

Pada tahun ajaran 1975/1976 Bapak Djayusman pulang dari Semarang dan setelah melihat bahwa SMA Negeri 1 sudah tidak berada di lokasi Labuh Basilang, langsung beliau menemui Bapak Walikota dan menanyakan hal tersebut. Hasil pertemuan tersebut, Bapak Walikota mengutus Bapak Djayuman bicara sama Bapak Sekda (Bapak Djansiwar) dan beberapa orang lainnya untuk menghadap Bapak Kakanwil Depdikbud Sumbar yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak Amir Ali. Setelah berdialog dengan Bapak Amir Ali tentang keberadaan SMA Negeri 1 Payakumbuh, maka Bapak Amir Ali selaku Kakanwil memahami bahwa Payakumbuh akan kehilangan sebuah SMTA dengan mendapat sebuah Sekolah Baru SMPP. Maka Kakanwil menjanjikan akan menghidupkan lagi SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Waktu berjalan dan masa beredar sampailah pada tahun 1977 dimana diperoleh informasi bahwa SMA Negeri 1 akan dipisah lagi dengan SMPP. Bagi guru-guru yang seIama ini mengibarkan panji-panji SMA Negeri 1 sangat gembira dengan gagasan tersebut. Hal ini ada benarnya karena dengan kita mendapat SMPP kita akan kehilangan sebuah SMA yang tertua di daerah ini, tentu tidak ada artinya penambahan sebuah Sekolah Menengah Atas sebagaimana yang terjadi pada waktu itu.

Rupanya informasi tersebut memang menjadi kenyataan sehingga pada tahun pertengahan 1977 realisasi pemisahan kembali SMA Negeri 1 dengan SMPP sesuai SK Kanwil dilaksanakan. SMA Negeri 1 Payakumbuh menempati lokasi baru di Tiakar Payakumbuh dengan mengangkat Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh yang baru yaitu Bapak Bustami Dt. Bijo Anso. Kebijaksanaan yang diambil dalam pembahagian ini adalah Kelas dibagi dua, 11 kelas dari kelas I sampai kelas III ditetapkan menjadi siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, untuk SMPP, mendapat kebahagian murid sebanyak 10 kelas dari siswa kelas I sampai kelas III. Begitu juga guru ditetapkan yang bertugas di SMA Negeri 1 Payakumbuh dan SMPP serta Tata Usaha.

Pada tanggal 17 Juli 1977 secara resmi SMA Negeri 1 Payakumbuh menempati lokasi yang baru dengan serba kekurangan karena perlengkapan yang di bawa ke SMPP tahun 1974 milik SMA Negeri 1 Payakumbuh sebagian besar tidak dibenarkan lagi dibawa ke Tiakar karena sudah menjadi inventaris SMPP.

Selaku Pimpinan baru pada waktu itu di lokasi yang baru mengalami suka duka yang cukup banyak antara lain:

  • Lokal yang tersedia di Tiakar hanya 7 buah ruangan belajar se dangkan siswa yang akan menempati 11 kelas.
  • Kelengkapan kantor sangat kurang sekali karena kepunyaan SMA Negeri 1 Payakumbuh tinggal di SMPP.
  • Di komplek SMA Negeri 1 Payakumbuh yang baru terdapat pula SD Negeri 1 Tiakar yang sehalaman dengan SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Untuk Mengatasi semua masalah yang tersebut diatas adalah berkat kerjasama yang erat dari guru dan karyawan SMA Negeri 1 Payakumbuh satu persatu masalah dapat dipecahkan bersama dan bertekad mengibarkan kembali panji-panji SMA Negeri 1 Payakumbuh yang hampir saja hilang dari masyarakat. Untuk mengatasi kekurangan lokal belajar Kepala sekolah telah berusaha mengadakan komunikasi dengan Kanwil Depdikbud Sumatera Barat melalui Bapak Drs. H. Thaher Ahmad yang pada waktu itu selaku sekretaris mendesak agar gedung SMA Negeri 1 Payakumbuh yang di jalan Khatib Sulaiman dikembalikan kepada SMA Negeri 1 Payakumbuh mengingat SMA Negeri 1 Payakumbuh di Tiakar kekurangan lokal. Sebagai jawaban beliau pada Kepala Sekolah (Bustami Dt. Bijo Anso) tidak perlu memikirkan Gedung SMA Negeri 1 yang lama. Bina saja SMA Negeri 1 di Tiakar sebagai Kepala Sekolah yang baru. Mendengar jawaban tersebut Kepala Sekolah memahami.

Untuk mengetahui kekurangan lokal tersebut maka 4 kelas ditinggalkan di SMPP (dititipkan). Hal ini berjalan sampai akhir tahun ajaran 1977/1978.

Pada tahun ajaran selanjutnya berkat kerjasama dengan Bapak Kepala 3 (tiga) SMA Negeri di Payakumbuh yang diketuai oleh Bapak Anas Dt. Rajo Diraja maka seluruh kekurangan tersebut dapat disempurnakan dan mulai tahun 1978 sudah dipikirkan beli tanah dan bangun gedung untuk penggantian SD Negeri I Tiakar yang berlokasi sangat berdekatan dengan SMA Negeri 1 Payakumbuh.

Dengan pengertian yang mendalam dari Wali Murid SMA Negeri 1 Payakumbuh dan berkat bantuan Pemerintah Daerah Kodya Payakumbuh maka semua kesulitan yang ditemui di Tiakar dapat diatasi sehingga pada tahun 1985 SD Negeri 1 Tiakar sudah dapat menempati lokasi baru yang didirikan. Oleh Bapak Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh dan Pemda Kodya Payakumbuh.

Pada tahun 1987 bolehlah dikatakan bangunan fisik yang dibutuhkan sampai kepada pembuatan pagar di sekeliling sekolah telah siap dan pada tahun tersebut Bapak Bustami Dt. Bijo Anso selaku Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh periode 1977-1987 mendapat promosi untuk menjabat Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten 50 Kota.

Pimpinan SMA Negeri 1 Payakumbuh selanjutnya mulai tahun 1987 sampai saat ini dipercayakan kepada Bapak Hilmi K. BA yang juga bekas guru SMA Negeri 1 Payakumbuh yang beberapa tahun sebelumnya dipercayakan sebagai Pimpinan SMA Negeri Maninjau dan akhirya Kepala SMA 3 Bukittinggi.

Dengan sudah tersedianya, baik prasarana maupun sarana untuk SMA Negeri 1 Payakumbuh maka Bapak Hilmi K. BA selaku Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh mengarah kepada peningkatan mutu dan proses belajar mengajar dan berusaha mengupayakan tercapainya kembali prestasi-prestasi yang pernah didapat SMA Negeri 1 Payakumbuh pada masa lalu.

Kita akan melihat pada Lampiran, prestasi yang diperoleh SMA Negeri 1 Payakumbuh baik prestasi belajar maupun yang lain-lainnya.

Juga dilampirkan alumni SMA Negeri 1 Payakumbuh semenjak berdirinya SMA Negeri 1 Payakumbuh sampai tahun ajaran 1994/1995

Demikianlah Sejarah SMA Negeri 1 Payakumbuh ini kami susun dan sebagai yang kami kemukakan dalam tulisan kami terdahulu apabila terdapatnya kekurangan-kekurangan, baik dalam penyampaian maupun penyusunan, sekali lagi kami mohon maaf

Wassalam kami penyusun,
Payakumbuh 7 September 1995.

  1. Djayusman
  2. Bustami Dt. Bijo Anso
  3. Hilmi K. BA
  4. Yarmi Alwi
  5. Masni Chun
  6. Zainul Masri Dt. R Mantiko Alam

Sumber: Buku Kanti Lamo (2006)


Ulasan Sejarah di atas ditulis pada tahun 1995, sudah 15 tahun pula berlalu. Tentunya perlu diperbaharui karena sangat banyak yang dapatt kita tulis sejak tahun 1995 itu.

Anda berminat?

Sebagai trigger (pemicu) kenangan kami tayangkan dulu para Kepala Sekolah mulai tahun 1996. Kalau anda ada kenangan silahkan tulis pada ruang komentar.